Minggu, 26 April 2015

SEKANTUNG BERAS DAN KEADILAN (MEMASTIKAN POSISI HUKUM BAGI MASYARAKAT MARGINAL)


                Fenomena pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan sosial masyarakat. Semakin berjayanya liberalisme di bumi nusantara perlahan memperlebar jarak antara kaum elit dengan masyarakat marjinal. Dominasi ekonomi kalangan pengendali kian hari kian terasa, masyarakat miskin seolah tidak memiliki ruang sedikitpun untuk dapat hidup sejahtera. Jumlah masyarakat miskin saat ini mencapai 29,2 juta jiwa[1], jumlah yang besar tentunya dan menjadi permasalahan nasional yang harus segera diselesaikan.
Ketidakseimbangan perekonomian ini pada akhirnya berimbas kepada permasalahan politik dan hukum.  Ketidakberpihakan hukum kepada masyarakat miskin semakin kentara bilamana keadilan beradu antara dua kutub yang berbeda. Hukum seolah tidak berdaya apabila berhadapan dengan uang dan kekuasaan. Ironi yang lama-lama bisa menjadi identitas bangsa ini benar-benar melenyapkan keadilan yang menjadi impian masyarakat miskin. Benar adanya bahwa keadilan yang dimaksud adalah keadilan sosial sebagai nilai utama tertinggi dalam struktur dasar masyarakat[2].
            Idealnya, hukum dalam hal ini adalah berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial[3]. Namun pada kenyataannya di Indonesia saat ini, hukum hanya menjadi sarana penguasa untuk melanggengkan kekuasaan dengan tidak meratanya keadilan di masyarakat sebagai salah satu tujuan hukum itu sendiri. Law enforcement atau penegakkan hukum secara prosedural sebetulnya sudah diterapkan, akan tetapi sayangnya keadilan secara substansi tidak jarang jauh dari harapan, terutama bagi masyarakat miskin. Pengadilan seringkali hanya kaku dalam teks tanpa bersedia menggali konteks daripada aturan hukum itu sendiri. Penyelesaian kasus pencurian kakao oleh seorang nenek dan sandal jepit oleh seorang bocah menjadi bukti bahwa hukum masih belum menempatkan diri di posisi yang ideal bagi masyarakat miskin.
            Hukum yang baik seharusnya responsif dengan kebutuhan sosial. Hukum yang baik, menawarkan sesuatu yang lebih dari keadilan prosedural, harus juga berkompeten dan juga adil, hukum semacam itu seharusnya mampu mengenali keinginan publik dan punya komitmen bagi tercapainya keadilan substantif[4]. Liberalisme yang berkembang membuat kesenjangan antara kaum pemodal dengan kaum miskin semakin kentara. Mencari bentuk hukum yang pas dengan perkembangan sosial  dan nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia menjadi solusi yang bijak demi tercapainya keadilan bagi masyarakat miskin. Hukum dalam hal ini sebaiknya tidak hanya diartikan sempit dalam ruang undang-undang saja, perlunya semangat pembebasan dalam menerapkan hukum menjadi harapan guna menyejahterakan masyarakat. Penerapan hukum yang biasa disebut Hukum Progresif ini tidak ingin terjebak dalam cara berhukum yang statis[5].

            Dengan demikian, gejolak yang terjadi dalam kehidupan sosial serta merta mempengaruhi penegakan hukum yang ada. Hukum harus ditegakkan dengan tanpa pilih kasih, karena pada prinsipnya, masyarakat miskin memiliki hak yang sama dengan masyarakat lain di hadapan hukum (equality before the law), sehingga masyarakat miskin dapat benar-benar dapat menikmati sekantung beras dan keadilan.



[1] http://www.bps.go.id/?news=940.
[2] John Rawls dalam Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 2005, hlm.20.
[3] Soedjono dirdjossiworo. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000,  hlm 154-155.
[4] Philip Nonet dan Philip Selznick, Hukum Responsif, Bandung,  Nusa Media, 2010, hlm. 84.
[5] Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif:Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Yogyakarta:Genta, 2009, hlm.106.

Jumat, 24 April 2015

Doa Simbok


Paimin kadang merasa buntu,, tidak bijaknya dia jarang langsung berdoa,, seringnya melamun, atau pergi menyendiri,, sebetulnya bila dikampung dia jarang sekali jatuh kalut, karena ada rumput, berlarian saja diatasnya, rasanya bahagia seperti mengurai benang kusut. Bisa saja Paimin tertawa lepas, berguling-guling bersama bola yang menggelinding sana sini. Tapi itu dulu...

Sekarang apa yang bisa membuat Paimin lupa akan masalah hidupnya?., suasana kota? jelas bukan.. Kota terlalu ramai untuk mencari tempat bersembunyi. Lagipula setiap sudutnya  cuma berisi benci dan raut-raut lelah, entah dengan keadaan atau kenyataan yang diterimanya. 

Waktu berkejaran dengan harapan,, dan menariknya mereka saling balap,, kadang waktu didepan, kadang aneh juga, tertinggal di belakang. Paimin memang terus belajar dan tidak sendiri, hanya rasanya kadangkala ingin sekali berendam di kolam bundaran HI, "biar adem" dan terasa apa yang dilakukan jauh lebih gila daripada masalah yang dipunyainya. 

Tapi yasudahlah, ini konsekuensi,, setiap pilihan pasti punya konsekuensi. Yang bisa  dilakukan oleh Paimin adalah terus terlihat tangguh saja. Ingat dulu tekad dan usahanya untuk tinggal di Kota? rasanya gopoh dan seperti liuk-liuk jalan panjang. Hehe.. Paimin cuma rindu tentang detik detik Pukul 5 sore sampai tengah malam yang terasa begitu lama. Paimin rindu mimpinya yang selalu tuntas di setiap tidur malamnya karena waktu tidurnya yang panjang.

Baiklah,, nampaknya hari ini berbeda,, kelihatannya Paimin hendak berdoa, tapi Paimin tidak mahir berdoa,, maka dari itu doa Paimin singkat saja...

"Ya Allah, kabulkanlah doa Simbok... Amiiin...."...

Begitu saja cukup, karena Paimin yakin Doa Simbok sudah pasti berisi penuh tentang kebahagiaan anak lanangnya.....  

SUKSESI DALAM POLITIK BERMARTABAT



            Pasca Reformasi, konfigurasi politik di Indonesia menjadi berubah-ubah secara dinamis. Perkembangan politik semakin berliku-liku sesuai dengan kepentingan elit di masa ini. Partai politik memegang peranan yang sangat signifikan dalam hal membangun sistem kenegaraan yang sehat. Sebuah tata pemerintahan yang baik akan tercipta, jika atmosfer politik turut mendukung sebagai sebuah komponen yang baik pula.
            Ibarat putaran roda, siklus pergantian penguasa di negeri ini pun sudah terjadi. Dapat kita lihat peralihan dari penguasa menjadi oposisi ataupun sebaliknya. Seharusnya hal tersebut dapat diartikan bahwa memang saat ini suasana perpolitikan nasional sangat dinamis. Bagaimana tidak, Partai Politik sebagai perangkat demokrasi kemudian terlibat dalam kontestasi perebutan kekuasaan secara sehat dalam sebuah “ring” dan regulasi yang jelas. Namun tampaknya pasca Pilpres, kondisi politik nasional menjadi berubah. Ketegangan-ketegangan muncul akibat perhelatan 5 tahunan tersebut. Politik praktis yang dipertontonkan para elit dewasa ini seringkali tidak dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat (grassroot). Politik saling hina, saling “bunuh” atau saling telikung seolah telah menjadi konklusi dalam benak rakyat atau masyarakat awam. Politik yang secara harfiah dapat diartikan sebagai cara untuk memperoleh kekuasaan seolah menjadi luas dimengerti sebagai “apapun caranya untuk mendapatkan kekuasaan”. Publik menjadi terdoktrinasi dengan pemaknaan “apapun caranya” karena memang yang terlihat dalam kancah perpolitikan nasional adalah praktik dimaksud.
            Saat ini, nilai-nilai moral dan kultur tidak lagi menjadi pagar bagi praktik politik yang dijalankan oleh para elit. Seolah kekuasaan menjadi muara dari terselanggaranya demokrasi di tanah air tercinta ini. Suara rakyat kini seolah menjadi komoditas saja bagi para elit, suara yang bisa dijadikan “landasan lepas landas” bagi para elit di dalam “pesawat politik”. Hal-hal tersebut kemudian dapat ditemui dalam praktik suksesi di negeri ini, baik dalam ruang lingkup mikro maupun makro. Tidak ada lagi “ewuh pakewuh” di kalangan politisi, segala sesuatunya menjadi halal demi kekuasaan yang harus digenggam.
            Dalam hal suksesi, di zaman atau periode modern justru yang terlihat adalah praktik-praktik suksesi “klasik” yang sama dengan masa raja-raja dahulu. Raja turun karena pemberontakan atau pembunuhan, kemudian berlangsung begitu-begitu saja. Pertanyaan yang muncul adalah “apakah ini yang disebut sebagai politik yang bermartabat?”. Etika politik yang selama ini digembar gemborkan sebagai pegangan dalam menjalankan praktik politik seolah tidak kentara keberadaannya. Dapat kita lihat dalam tahapan kampanye Pilpres 2014 yang lalu, bagaimana politik “character assassination” begitu menjadi tren di kalangan politisi bahkan masyarakat pun akhirnya “terkontaminasi”. Tidak ada sopan santun atau tata krama ketimuran ala Indonesia yang seringkali dibanggakan oleh para leluhur kita.
            Dalam skala besar maupun kecil kita bisa melihat praktik-praktik suksesi yang kurang bermartabat,di dunia perpolitikan nasional. Demokrasi yang kita upayakan waktu demi waktu masih saja belum bisa diselenggarakan secara benar. Tidak perlu mengupas lagi terlalu dalam mengenai etika suksesi skala besar, suksesi skala kecil atau suksesi internal poliitik juga tidak menggambarkan adanya kedewasaan dalam diri politisi-politisi Indonesia. Memang tidak semua politisi atau kita tidak bisa men-generalisir seluruh politisi tidak dapat mencontohkan proses suksesi yang baik dan sehat, akan tetapi alangkah idealnya jika praktik suksesi ini dapat ditunjukkan dengan bersih, sehat dan menjunjung tinggi sportifitas.
Pengertian suksesi dalam ilmu biologi sebenarnya adalah proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju ke arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil. Proses suksesi akan berakhir apabila lingkungan tersebut telah mencapai keadaan yang stabil atau telah mencapai klimaks. Jika diimplementasikan ke dalam pagelaran politik tentunya esensi dari pengertian suksesi (perspekrif biologi) dapat bersinergi dan memiliki kecenderungan yang sama. Proses pergantian kepemimpinan hendaknya selalu menuju ke arah pemimpin yang lebih baik, dan untuk mendapatkan pemimpin yang baik seyogyanya melalui suatu proses suksesi yang baik dan bermartabat.
Secara konkrit, beberapa partai politik baru-baru ini telah melakukan proses pergantian tangkup pimpinan, ada yang mulus melaluinya tanpa ada hambatan yang berarti dan tidak sedikit yang menyisakan konflik. Benturan antara ambisi kelompok orang dengan kelompok yang lain dalam ruang lingkup yang sama memang tidak mungkin dihindari, namun seharusnya hal tersebut bukan menjadi alasan untuk saling berseteru berkepanjangan. Sebetulnya masyarakat sudah jengah dengan tontonan politik perebutan kekuasaan dalam partai politik.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis yang juga bagian dari masyarakat penyimak politik nasional hanya bisa berharap kelak para politisi atau para elit negeri ini dapat menunjukkan kepada publik kinerjanya yang maksimal bukan hanya konflik tiada hentinya. Penulis berharap agar kedepan akan terwujudnya praktik demokrasi yang sesungguhnya. Bagaimana kondisi seperti pasca Pemilihan Presiden di Amerika Serikat antara Barack Obama dan John Mc Cain yang berkhir dengan ucapan Mc Cain kepada Obama. Keluasan hati dan kesiapan dalam kompetisi seyogyanya dimiliki para politisi agar tercipta sebuah suksesi yang bersih, sehat dan sportif, sehinnga tentunya menjadi bagian dari cara berpolitik yang bermartabat.

Selasa, 24 April 2012

Santai saja pak,,JOGJA AKAN DEWASA KELAK,

Tak perlu ributkan jogja,, jogja akan selalu istimewa sampai kapanpun,, jangan jadikan jogja sebagai komoditas politik. Jogja cuma punya satu wajah, jangan pecahkan dengan interpretasi2 lain. Paling tidak sampai hari ini Sultan masih di hati rakyat. Saya jadi ingat siklus polybios,, sistem perpolitikan akan terus bergulir dengan sendirinya. Jogja sedang tenang dengan "monarkinya", minimal sampai hari ini. Sejalan dengan pendapat Aristotles, Polibios berpendapat bahwa pemerintahan negara umumnya diawali dengan bentuk MONARKI, dimana seorang raja/ratu memerintah sebagai penguasa tunggal demi kesejahteraan rakyatnya. Namun demikian bentuk pemerintahaan semacam ini lama-kelamaan akan merosot menjadi TIRANI ketika raja yang bersangkutan atau raja-raja keturunannya, tidak lagi memikirkan kepentingan umum.dalam situasi semacam itu umumnya akan muncul sekelompok bangsawan yang kemudian menggerakkan perlawanan hingga akhirnya dapat mengambil alih kekuasaan. waktu inilah pemerintahan tersebut disebut pemerintah ARISTOKRASI. Namun karena kekuasaan itu cenderung untuk disalahgunakan, pemerintahan kaum bangsawan yang baik itu pun lama-lama akan merosot dan menjadi pemerintahan yang hanya akan mementingkan diri sendiri hingga akhirnya disebut sebagai OLIGARKI yang menindas rakyat.Akhirnya rakyat lah yang akan memberontak dan menjalankan pemerintah sampai akhirnya pemerintahan berganti menjadi DEMOKRASI namun lama kelamaan pemerintahan ini juga akan jatuh akibat korupsi dan lain-lain hingga pemerintahan menjadi OKLOKRASI ditengah semua itu Polibios meramal akan ada orang yang kuat dan berani untuk mengambil alih pemerintahan dan menjadi seorang raja sehingga pemerintahan kembali menjadi pemerintahan MONARKI. (TAHUN LALU...)

PAIMIN

      Paimin.. pemuda kampung serba seadanya.. menjajal kerasnya ibukota.. berbekal nekad tanpa perhitungan.. alih alih pujian... cacian yang didapat.. muka pas2an.. jadi artispun sulit.. jadi manager juga tak pandai bahasa asing.. paimin menangis di sudut ruko.. airmatanya mewakili rindunya kepada simbok di kampung.. tiba2 dia teringat kata2 simboknya dikampung.. le..(tole).. simbok nggak kpingin kamu jadi boss... simbok cm kepengen kamu bahagia dan tenang menjalani hidup.. walaupun keadaan sulit... paimin semakin kencang menangis.. seakan akan hendak pulang.. esok paginya tetap berulang.. dan paimin belum beranjak.
         Paimin sudah biasa dibenci dibuang disakiti dihakimi dilupakan dunia.. hanya karena paimin terlalu ikhlas.. tapi biarlah pikirnya... asalkan orang2 besar bahagia paimin siap menjadi alas kakinya.. asalkan simbok tidak tau hatinya pedih.. senyum hangat tersaji dari paimin untuk dunia.. pemuda kampung ini terbuai.. ibarat judi.. menang diawal permainan adalah iming2 melanjutkan pertandingan.. paimin lupa judi di kota lebih gila dari adu ayam atau maen gaple di kampungnya.. tidak ada satupun yang bisa dipercaya di arena permainan.. semua hanya kebutuhan.. sejatinya tidak ada pertemanan apalagi cinta.. hari ini memutar roulette bersama mungkin esok lupa siapa nama.. paimin akhirnya tau cara menjadi kaya dikota.. bukan menjadi saudagar minyak atau walikota seperti berita televisi.. tetapi menjadi pengusaha topeng adalah jawabanyya.. paimin oh paimin.. bukan karena lugu dia tertindas.. tapi karena tak bisa dia mendendam.. lagipula tak kuasa pula dia membalas.. sadar diri dibawah garis batas..
         Pagi itu paimin pura2 lupa sarapan.. tapi hebatnya belum juga kesal dia dengan Tuhannya.. dengan senyum palsu dia mencoba membohongi getir hidupnya.. seolah bangkit kepalanya tetap kosong.. belum ada rencana.. sampai dia terbelalak melihat isi tasnya.. iya ada ijazah sarjana hukum disana.. atas nama dirinya pula...ijazahnya bersebelahan dengan rokok djarum super di dalam tas.. dan paimin lebih tertarik mengambil sebatang.. diacuhkannya ijazah paimin.. sambil melamun trotoar jadi bangku meditasi.. apa yang hendak aq raih.. ah sudahlah.. masih bisa bernafas dikota ini saja sudah jadi prestasi bagi paimin..
         Paimiin oh paimin cita2nya sedang diuji debu jalanan.. tak lama paimin beranjak juga.. tiba2 tawanya lepas seolah bahagia.. sedang apa dia? ternyata dia baru sadar uangnya tiada sisa.. pantang menyerah ditantangnya lagi nasibnya.. pikiranny penuh rencana.. kita lihat dia kmana..
        Paimin ingin kerja di kantor pemerintah.. bukan cita2nya memang.. tapi akhir2 ini dia begitu kepincut.. seragamnya aneh memang.. tidak ada atribut pula.. tapi dia ingin seperti mas tono tetangga kampungnya yang sukses menjadi kaya karena kerja di kantor pemerintah.. dasar paimin yang polos.. bahkan dia tidak tahu kalo kantor pemerintah tidak membuka rekrutmen pegawai taun ini.. tetap dititipkannya surat lamaran paimin ke satpam kantor pemerintah tersebut..
      Paimin bergegas pindah harapan.. dilihatnya gedung perkantoran yg megah berjejeran.. tapi surat lamarannya tersisa dua saja.. bimbang bergelayut kini.. mau kemana aku.. dilihatnya sebuah bank yang tidak asing baginya.. karena dikampung bank ini cukup terkenal.. tanpa pikir panjang dimasukannya lamaran melalui satpam.. angan2nya terbang tinggi.. karena status pegawai bank cukup mentereng dikampungnya.. cukup pantaslah kalau digunakan melamar lasmi pujaan hatinya disana..
       Paimin bergegas segera menuju jalanan tak bertuan.. kebingungan yang orisinil terpancar dari gerak geriknya.. ya.. tentu saja.. karena jam menunjukan jam 1 siang.. dan belum ada sebutir nasi pun singgah di perutnya... akhirnya paimin memutuskan mencari mesjid sambil memikirkan rencana selanjutnya disana.. termasuk bgaimana caranya bisa makan siang ini..
       Paimin rebahkan badan.. lunglai raganya kurang asupan.. tak terlarut dalam waktu paimin segera bangkit ambil wudhu.. meski jiwanya goncang belum lupa juga dia dengan Tuhannya.. sembahyang paimin mengadu harapanyya.. diselipkannya nama simbok dalam antrian menuju mekah.. paimin tak menangis sampai perutnya sendiri yang menegur... laparnya tak karuan..
      Paimin gelisah.. gimana caranya aku bisa makan..pikirnya... ohh..iya mengamen saja.. alat musiknya?? cukup dua telapak tangan bertepuk saja..*paimin belum terpikir menjual ponselnya karena menurutnya ponsel adalah akses menuju masa depannya.. akhirnya dengan langkah percaaya diri berbekal reputasinya sebagai penyanyi dangdut hajatan di kampung.. paimin bersenandung di dalam mtromini reot.. bak biduan kondang, terlantun lagam rindu buatan sendiri teruntuk kekasihnya.. "adinda disana... perkenankan kusapa kamu.. dari jauh sayup sayup saja.. bercampur derita.. rinduku tetap akan bercerita....".
       Setelah rampung dia mengamen.. dikantonginya sejumlah uang..cukup untuk membeli sebungkus nasi telur.. di sela sela langkah menuju warteg.. Paimin tiba2 terdiam.. dilihatnya segerombolan bocah cekikikan tanpa jelas sebabnya.. omongan mereka ngelantur.. Paimin penasaran bukan kepalang.. diperiksa sekelilingnya tak ada miras apalagi sabu.. lalu kenapa bocah2 ini? ohh Tuhan ternyata di sudut canda.. paimin melihat kaleng aibon dan kantong plastik berisi sedikit bensin.. bocah2 ini terlalu hijau untuk kalut.. belum pantas mereka lampiaskan bencinya kepada hidup.. lewat kaleng aibon bgitu jujur mereka bertutur.. yang satu ceritakan bapaknya yang tukang pukul.. yang satu lagi ceritakan ibunya seorang nakal. Tak kuasa paimin bertindak, bingung campur sedih membuat mampet otaknya.. ditinggalkannya saja bocah2 itu.. sambil berjanji dalam hati.. kelak jika aku mnjadi presiden akan kuperhatikan mereka.. Tetap melangkah paimin masih saja membatin.. ternyata beruntung juga aku lahir dan besar dikampung.. kota ini benar2 sadiss.. harus ada yg dikorbankan sementara kebahagaiaan juga mahal harganya.. duh Gusti... paringono sabaar... *hebatnya kemauan paimin masih menggebu gebu.
        Huuf.. mau suksess itu sulit ya... paimin menggumam... sambil mengayun langkah paimin berandai andai.. jikasaja suatu hari nanti aku berhasil menjadi pejabat aku mau beli tanah dan sapi yang buanyak.. biar nanti digarap sahabat2ku dikampung.. lalu aku akan berangkatkan simbok ke mekah.. dan yang paling spesial akan aku ajak lasmi pergi ke italia untuk membuktikan menara pisa itu betul2 miring atau tidak.. karena lasmi penasarannya bukan main.. *lasmi suka sekali pelajaran ips dan pelajaran ttg menara pisa adalah bab terakhir yang dia baca sebelum orangtuanya memutuskan untuk tidak lanjut kuliahkan lasmi hingga lasmi putus sekolah smpai SMA saja.. Senyum2 sendiri paimin terlihat kurang waras.. paimin sedang lupa padahal... sahabat2nya cuma rindu paimin bermain gitar dan bersenandung riang bersama di poskamling.. simbok cuma ingin belanja ke pasar dibantu paimin menggoes sepeda ontelnya.. dan lasmi cuma ingin paimin cepat pulang duduk manis disampingnya lalu ceritakan monas kepadanya.. karena monas dan pisa sama jauhnya bagi lasmi..
         Satu berkas lamaran dalam genggaman.. belum bertujuan pula paimin mengayun langkah.. satu gerakan kaki tak sebanding dengan kecepatan berfikirnya.. oke.. santai sajalah.. kata simbok jg rejeki gak kemana.. setelah puluhan langkah barulah paimin mendapat ide.. paimin kemudian tergesa2.. hotel.iya hotel.. paimin ingin juga kerja di hotel agar bisa melihat bule secara langsung.. karena selama ini paimin hanya melihat orang asing dari televisi kreditan di rumahnya.. dalam bayangannya kelak jika sering ketemu bule paimin akan minta foto agar bisa dipamerkan kepada teman2nya dikampung setelah shalat ied tahun ini.
          Paimin tak punya referensi.. bahkan hotel berbintang pun belum dikenalnya.. lantas yang mana yang harus saya lamar pikirnya.. oia hotel bintang pasti dilihat dari lapangan parkirnya.. minimal seluas sawahnya haji dulah mungkin.. tapi tak akan lebih luas dari harapannya tentang kesuksesan.. lalu apalagi ya? oia gedung hotel berbintang pasti tinggi.. minimal setinggi pohon durian di kebun mbah man.. tapi tidak akan lebih tinggi dari cita2nya membahagiakan simbok dan lasmi.. dan satu lagi kriteria yang dia buat adalah ada kolamrenang yang besar.. minimal sebesar empang pakde darsiman.. tapi tidak akan lebih besar dari perjuangan yang akan paimin kenang suatu hari nanti.
          Lama berputar putar paimin berhenti di satu titik.. tercengang paimin melihat rombongan orang berduyun duyun membawa map coklat tanda butuh pekerjaan.. antrian sudah memanjang.. ramai terkumpul di depan sebuah bangunan.. malu malu paimin bertanya.. gadis berambut panjang kemeja ketat melekat dgn rok mini dipilihnya sebagai tempat bertanya.. maaf mbak.. ini ada apa to? ada bukaan pekerjaan to? mbak2 td spontan tersenyum sambil menjawab ngga ada bukaan mas.. adanya lowongan kerja.. ini perusahaan rokok lagi btuh banyak pegawai.. posisiny jg mcm2 kok..ikutan aja mas.. sekalian antri di blkg saya.. paimin mlongo.. yang dipikirnya adalah gimana jadinya seandainya lasmi berbaju ketat dan rok mini.Paimin iya2 saja padahal dia sendiri kurang paham.. selang waktu kemudian paimin beralih pandang ke segerembolan orang.. berpakaian ala santri menbawa panji2 kebanggaan lalu teriakan lantang asma Allah menyedot perhatian sekitar.. paimin menggumam.. opo to iki? oo mgkin satu ormas yg sering aq lihat di tv.. paimin spontan geleng2.. paimin punya pemikiran sendiri.. "aq punya Tuhan yg sama dengan mereka.. aq punya agama yg sama dgn mereka.. tapi mgkin aq menganut kebaikan yang berbeda dengan mereka.. ahh sudahlah.. tidak penting juga memikirkan mereka.. tidak menjadikan kaya kok.. *paimin kembali fokus ke antrian sambil tengok kanan kiri..
         Paimin mulai gelisah di antrian.. dan nampaknya hanya dia yg gelisah.. semua pengantri tertunduk takluk dengan ponselnya (red: blackberry) masing2.. ingin berbincangpun paimin canggung.. terpengaruh juga paimin keluarkan ponselnya (red: nokia3310).. dengan pulsa sekarat cukup 2 kali sms saja paimin berani saja kirim rindunya kepada lasmi.. pesan pertamanya begini "dek.. mas pai sedang antri nih".. paimin bodoh memang.. dgn pulsa terbatas malah kirim pesan singkat saja.. tapi tak lama berselang lasmi membalas.. "antri apa mas?" lugu polos lasmi benar2 ingin tahu.. Paimin sergap membalas, kali ini agak cerdas paimin memanfaatkan pulsa terakhirnya.."antri masukkan lamaran kerja dek.. biar segera juga mas pai masukkan lamaran buat kamu".. antrian pun bergerak maju.. dan paimin masukan kembali ponselnya kedalam sakunya.

Jumat, 02 Maret 2012

hey...

Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah Yang Terbaik untukmu !

Selasa, 20 Desember 2011

-------------------------------------------------------------------------- asm-------------------------


Tuhan,,, kusandarkan lelahku diatas doa,,, jengah terbaring lunglai diantara gemuruh harapan… Kencang angin berhembus,,, memaksaku segera berlari kearah sana,, gemerlap bintang begitu mengacaukan pandang,, kucari satu, runtut kuuraikan warnanya,,,tapi gulita perlahan tak ada asa…

Tuhan,, izinkan aq menghardik kerdil diri sendiri,, jangankan menjaganya.. belenggu dosa ganas menghunus putihku.. pun bidadari terbang gontai berputar putar..

Kali ini benar cinta, mati aku jika bukan dia..